“Kan keluarga.”
“Kan saudara.”
“Kan sahabat dekat.”
Kalimat-kalimat ini sering membuat kita bertanya-tanya, “kenapa justru dengan mereka kita merasa paling tidak nyaman?”
Jika kamu mulai menjaga jarak, menghindari obrolan mendalam, atau merasa lebih tenang di luar rumah daripada di dalam, bisa jadi kamu sedang mengalami emotional cut off, ini sih bukan karena tidak peduli, tapi karena ada luka emosional yang belum sembuh.
1. Menghindari Percakapan Mendalam sebagai Bentuk Perlindungan Diri
Mengobrol seperlunya, menghindari topik personal, atau memilih diam saat bersama keluarga sering disalahartikan sebagai dingin.
Padahal secara psikologis, ini adalah defense mechanism:
Kamu ingin mencegah konflik
Kamu tidak ingin terluka lagi
Kamu menjaga diri dari invalidasi emosi
Menghindari kedalaman bukan karena tidak punya perasaan, tapi karena terlalu sering merasa tidak dipahami.
2. Urusan Keluarga Tidak Lagi Jadi Prioritas Emosional
Saat seseorang mengalami luka dalam relasi keluarga, yang sering terjadi adalah:
Keterlibatan emosional menurun
Kewajiban terasa berat
Hubungan dijalani secara fungsional, bukan emosional
Dalam psikologi keluarga, ini dikenal sebagai emotional disengagement, atau bentuk jarak emosional untuk mengurangi rasa sakit.
3. Canggung dan Tidak Nyaman Saat Berkumpul
Perasaan tidak nyaman saat kumpul keluarga sering muncul karena:
Ada sejarah konflik yang belum selesai
Emosi dulu sering diremehkan
Tidak ada ruang aman untuk menjadi diri sendiri
Tubuh mengingat pengalaman itu. Maka meski secara logika “tidak ada apa-apa”, sistem saraf tetap siaga dan tegang.
💬 Jika kamu merasa hubungan keluarga terasa kaku, dingin, atau melelahkan secara emosional, berbicara dengan psikolog di Psikologi.co.id bisa membantumu memahami luka yang terjadi dan menentukan batas yang sehat, tanpa harus memutus hubungan secara ekstrem.
4. Menahan Emosi di Depan Keluarga
Banyak orang merasa:
Tidak aman menunjukkan sedih
Takut dianggap lemah
Lebih memilih memendam emosi
Ini sering berakar dari emotional invalidation di masa lalu, yakni saat emosi tidak diterima atau malah disalahkan. Akhirnya, menahan emosi terasa lebih aman daripada jujur.
5. Lebih Nyaman di Luar Rumah daripada di Dalam
Rumah seharusnya menjadi tempat pulang. Tapi bagi sebagian orang, rumah justru terasa menekan.
Jika kamu merasa:
Lebih bebas jadi diri sendiri di luar
Lebih tenang bersama orang lain
Lebih hidup saat jauh dari rumah
Itu bukan durhaka. Itu adalah sinyal psikologis bahwa rumah belum sepenuhnya menjadi ruang aman secara emosional.
“Menjaga jarak kadang adalah cara paling aman untuk tetap waras.”
Jika kamu ingin memahami apakah jarak ini perlu dipertahankan, diperbaiki, atau diatur ulang dengan lebih sehat, Psikologi.co.id siap menjadi ruang aman untuk menemanimu memproses luka keluarga tanpa harus menghakimimu menjadi anak yang ‘durhaka’, tapi mencoba mengerti bagaimana keadaan yang sedang kamu alami.




