Bentuk Reaksi Trauma yang Sering Disepelekan

Trauma bukan hanya tentang ingatan buruk yang terlintas di kepala. Terutama trauma yang sumbernya manusia atau orang yang pernah menyakiti, mendominasi, mengontrol, atau membuat kita merasa kecil, biasanya bekasnya sering menetap jauh lebih dalam.

Dalam psikologi, trauma seperti ini disebut interpersonal trauma. Dampaknya tidak selalu muncul sebagai cerita sedih atau tangisan terus-menerus, melainkan dalam reaksi tubuh dan emosi yang muncul tiba-tiba, sering kali tanpa bisa dikendalikan.

Masalahnya, banyak reaksi trauma ini dianggap berlebihan, lebay, atau “harusnya sudah lewat”. Padahal, tubuh hanya sedang mengingat apa yang dulu mengancam keselamatan emosionalnya.


1. Reaksi Tubuh yang Langsung Aktif Meski Bahaya Sudah Tidak Ada

Deg-degan hanya karena mendengar namanya. Lemas melihat benda atau situasi yang mengingatkan padanya. Panik atau menangis saat tahu dia akan mendekat.

Dalam psikologi, ini disebut trauma trigger. Otak bagian emosional (amigdala) masih menganggap situasi tersebut sebagai ancaman, meskipun secara logika kamu tahu itu sudah berlalu.

Tubuh bereaksi lebih cepat daripada pikiran.


2. Ketidaknyamanan Intens di Tempat atau Situasi Tertentu

Merasa sangat tidak nyaman di tempat yang pernah menjadi saksi kejadian traumatis. Bahkan hanya lewat saja bisa membuat:

  • Jantung berdebar cepat

  • Napas pendek

  • Tubuh terasa tegang

Ini adalah bentuk trauma memory, di mana ingatan tidak hanya tersimpan sebagai cerita, tapi juga sebagai sensasi tubuh. Tempat menjadi “pengingat hidup” bagi sistem saraf.


3. Sensitivitas Tinggi terhadap Suara dan Gerakan

Takut berlebihan pada suara pintu dibanting atau benda jatuh. Reaksi ini sering muncul jika sebelumnya konflik atau kekerasan emosional melibatkan lingkungan sekitar.

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai hypervigilance, yaitu kondisi ketika tubuh selalu siaga, seolah bahaya bisa muncul kapan saja.

Bukan karena kamu penakut, tapi karena tubuh belajar untuk bertahan.


💬 Jika kamu sering mengalami reaksi tubuh atau emosi yang terasa di luar kendali akibat pengalaman masa lalu, berbicara dengan psikolog di http://Psikologi.co.id bisa membantumu memahami dan menenangkan sistem sarafmu secara bertahap dan aman.


4. Dampak Trauma pada Pikiran dan Relasi

Trauma tidak hanya memengaruhi tubuh, tapi juga cara berpikir dan berelasi.

Beberapa respons yang sering muncul:

  • Overthinking berlebihan setelah membicarakan apa pun tentang dia

  • Sulit percaya pada orang lain, meski mereka baik

  • Mati rasa saat diajak ngobrol serius

Ini berkaitan dengan defensive coping, yaitu mekanisme perlindungan diri agar tidak terluka lagi. Sayangnya, mekanisme ini sering membuat hubungan baru terasa sulit dan melelahkan.


5. Reaksi Emosional yang Bertahan Lama

Cemas yang muncul terus-menerus tanpa alasan yang jelas, atau reaksi tubuh yang kaget saat disentuh, sering kali membingungkan. Secara psikologis, ini bukan reaksi berlebihan dan bukan pula kelemahan mental. Ini adalah tanda bahwa tubuh belum sepenuhnya merasa aman.

Dalam psikologi trauma, kondisi ini berkaitan erat dengan respons sistem saraf otonom yang masih aktif. Beberapa hal yang biasanya terjadi:

  • Cemas konstan tanpa pemicu yang jelas

  • Tidak nyaman dengan sentuhan

  • Tubuh terasa “kaget” atau tegang mendadak

Trauma tidak diproses di bagian otak yang berpikir logis, melainkan di sistem saraf dan memori emosional. Karena itu selama tubuh belum menerima sinyal aman secara konsisten, respons bertahan akan tetap muncul.