Banyak orang tumbuh dengan kalimat seperti “jangan baper”, “jangan lebay”, atau “perasaan doang kok”. Kalimat-kalimat ini terdengar sepele, tapi secara psikologis bisa membentuk cara seseorang memandang emosinya sendiri.
Jika hari ini kamu sering merasa bersalah saat sedih, marah, atau terluka, bisa jadi masalahnya bukan pada emosimu, melainkan pada lingkungan yang sejak awal tidak memberi ruang untuk merasa.
1. Dibesarkan dengan Penyangkalan Emosi
Dalam psikologi perkembangan, anak belajar mengenali dan mengelola emosi dari respons lingkungan. Saat emosi sering ditolak atau diremehkan, yang terjadi adalah emotional invalidation.
Dampaknya:
Anak belajar bahwa perasaannya “salah”
Emosi dianggap mengganggu
Ekspresi diri ditekan sejak dini
Bukan karena emosinya berlebihan, tapi karena tidak pernah divalidasi.
2. Merasa Bersalah Setiap Kali Merasa
Saat dewasa, pola ini sering berlanjut menjadi:
Merasa salah saat sedih
Menyalahkan diri sendiri karena sensitif
Menahan emosi agar “tidak merepotkan”
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan internalized shame, atau bisa dikatakan rasa malu yang tertanam karena emosi sendiri dianggap tidak pantas.
Padahal, emosi adalah sinyal bahwa kamu lagi nggak baik-baik aja.
3. Sensitif Bukan Lemah, Tapi Peka
Sensitivitas sering disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, secara psikologis, orang yang sensitif biasanya:
Lebih peka terhadap suasana
Mudah menangkap emosi orang lain
Memiliki empati tinggi
Masalah muncul ketika lingkungan tidak menghargai kepekaan, lalu mengubahnya menjadi sumber rasa bersalah.
💬 Jika kamu sering meragukan perasaanmu sendiri atau merasa “berlebihan” setiap kali emosi muncul, berbicara dengan psikolog di Psikologi.co.id bisa membantumu memvalidasi pengalaman emosionalmu dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan perasaanmu sendiri.
4. Lingkungan yang Tidak Aman Membentuk Pola Bertahan
Saat emosi tidak diterima, tubuh dan pikiran belajar bertahan dengan cara:
Menekan perasaan
Menghindari konflik
Menyembunyikan luka
Dalam jangka panjang, ini bisa memicu kecemasan, kelelahan emosional, dan kesulitan mengenali kebutuhan diri sendiri.
Ini bukan kelemahan karakter, tapi strategi bertahan yang dulu diperlukan.
5. Belajar Ulang Menghargai Emosi Sendiri
Proses penyembuhan sering dimulai dari:
Mengakui bahwa emosimu valid
Memberi izin pada diri untuk merasa
Membangun batas dengan lingkungan yang meremehkan
Dalam psikologi, ini disebut emotional re-parenting, yakni belajar memberi respon yang dulu tidak kita dapatkan.
Pelan-pelan, rasa bersalah bisa berubah jadi penerimaan.
“Emosi yang diterima akan menenangkan, emosi yang ditolak akan memberontak.”
Dan jika kamu sedang belajar berdamai dengan perasaan yang dulu sering ditekan, Psikologi.co.id siap menjadi ruang aman untuk menemanimu, tanpa harus membuatmu takut dihakimi apalagi ceritamu diremehkan.




