Pernah merasa bereaksi sangat kuat terhadap sesuatu yang terlihat sepele bagi orang lain? Nada suara, kata tertentu, situasi tertentu, ternyata tiba-tiba membuat tubuh tegang, pikiran kacau, atau emosi melonjak.
Dalam psikologi trauma, ini bukan soal berlebihan. Orang yang belum pulih dari trauma sering kali memproses dunia lewat trigger, bukan lewat realitas saat ini.
Bukan karena mereka tidak mau rasional, tapi karena sistem saraf masih hidup di mode bertahan.
1. Trauma Mengubah Cara Otak Memproses Realitas
Trauma tidak hanya tersimpan sebagai ingatan, tapi juga sebagai respons otomatis di otak dan tubuh.
Secara psikologis:
Otak bagian emosi (amigdala) jadi terlalu aktif
Sistem logika (korteks prefrontal) mudah “offline”
Tubuh bereaksi sebelum sempat berpikir
Akibatnya, seseorang merespons situasi sekarang dengan kacamata masa lalu.
2. Trigger Membuat Masa Lalu Terasa Terjadi Lagi
Trigger bisa berupa:
Nada suara
Kalimat tertentu
Ekspresi wajah
Situasi yang mirip dengan pengalaman lama
Saat trigger muncul, otak tidak membedakan “dulu” dan “sekarang”. Yang terasa adalah:
Ketakutan lama
Rasa tidak aman
Emosi yang dulu belum selesai
Inilah yang membuat seseorang melihat dan mendengar lewat luka, bukan fakta objektif.
3. Reaksi Trauma Sering Disalahpahami sebagai Drama
Orang yang belum paham trauma sering berkata:
“Kamu lebay”
“Itu cuma bercanda”
“Sudah berlalu, kenapa masih begitu?”
Padahal secara psikologis, ini adalah trauma response, bukan pilihan sikap. Reaksi ini muncul karena tubuh sedang melindungi diri dari ancaman yang dirasakannya nyata.
💬 Jika kamu sering merasa reaksi emosimu ‘tidak masuk akal’ bahkan bagi dirimu sendiri, psikolog di http://Psikologi.co.id bisa membantumu memahami trigger, menenangkan sistem saraf, dan memisahkan masa lalu dari masa kini secara bertahap dan aman.
4. Trigger Bukan Tanda Lemah, Tapi Tanda Luka
Trigger menunjukkan bahwa:
Ada pengalaman yang belum terproses
Ada bagian diri yang belum merasa aman
Ada luka yang dulu terlalu berat untuk ditangani sendirian
Dalam psikologi trauma, ini adalah sinyal, bukan kegagalan. Tubuh hanya melakukan apa yang dulu membantumu bertahan.
5. Pemulihan Membantu Kita Melihat Kembali dengan Jernih
Pulih dari trauma bukan berarti menghapus ingatan, tapi:
Mengenali trigger tanpa tenggelam di dalamnya
Mengajarkan tubuh bahwa sekarang lebih aman
Mengembalikan kendali pada diri sendiri
Pelan-pelan, dunia tidak lagi dibaca lewat luka, tapi lewat kesadaran masa kini.
“Orang yang terluka tidak melihat dengan mata, tapi dengan pengalaman.”
Jika kamu ingin belajar memahami trigger tanpa menyalahkan diri sendiri, http://Psikologi.co.id hadir sebagai ruang aman untuk menemanimu memproses trauma dengan empati, dan ilmu.




