Tidak semua hubungan pertemanan membawa rasa aman. Ada kalanya, orang yang kita sebut “teman baik” justru menjadi sumber lelah emosional, merusak ketenangan hati, bahkan perlahan mengikis kepercayaan diri.
Masalahnya, toxic friendship jarang terlihat jelas. Ia sering datang dengan tawa, candaan, dan kedekatan. Tapi di balik itu, ada pola perilaku yang secara psikologis tidak sehat.
Berikut lima karakter teman yang sering dianggap biasa, padahal berdampak buruk bagi kesehatan mental.
1. Terobsesi Membicarakan Keburukan Orang Lain
Awalnya terlihat seperti curhat. Tapi jika hampir setiap pertemuan selalu diisi dengan:
Membahas kesalahan orang yang sama
Menyoroti hal-hal sepele
Mengulang cerita negatif tanpa solusi
Secara psikologis, ini bukan lagi pelepasan emosi, melainkan rumination dan projection, atau kecenderungan melampiaskan ketidakpuasan diri dengan menjatuhkan orang lain.
Jika kamu terlalu sering berada di lingkungan seperti ini, tanpa sadar kamu bisa ikut terseret dalam pola pikir negatif dan penuh prasangka.
2. Menertawakan Orang Lain dengan Kedok Humor
Candaan seharusnya menghangatkan, bukan melukai. Namun dalam toxic friendship, humor sering dipakai sebagai alat merendahkan.
Ciri yang sering muncul:
Lelucon tentang fisik, latar belakang, atau kegagalan orang lain
Saat kamu tersinggung, kamu dibilang “baper”
Tawa ramai, tapi ada satu pihak yang terluka
Dalam psikologi, ini disebut passive-aggressive behavior, di mana agresi disamarkan lewat candaan. Jika dibiarkan, ini bisa menurunkan harga diri dan rasa aman emosional.
3. Manis Tapi Pilih-Pilih Orang
Teman seperti ini terlihat sangat ramah—tapi hanya pada orang tertentu. Biasanya:
Super manis ke yang dianggap penting
Dingin, sinis, atau meremehkan ke yang dianggap “tidak berguna”
Sikap berubah tergantung siapa yang dihadapi
Secara psikologis, ini berkaitan dengan conditional regard: penerimaan yang bersyarat. Berada dekat dengan orang seperti ini membuatmu terus bertanya-tanya, “Aku cukup penting atau tidak?”
💬 Jika kamu sering merasa tidak nyaman, tertekan, atau ragu pada diri sendiri setelah berinteraksi dengan teman tertentu, itu bisa menjadi sinyal hubungan yang tidak sehat. Konsultasi dengan psikolog di http://Psikologi.co.id dapat membantumu memahami dinamika pertemanan dan menjaga kesehatan mentalmu dengan lebih sadar.
4. Menghormati yang Berkuasa, Merendahkan yang Lemah
Pola ini terlihat jelas dalam cara seseorang memperlakukan orang lain berdasarkan posisi dan kekuasaan.
Ciri-cirinya:
Sangat sopan pada yang “punya pengaruh”
Kasar atau semena-mena pada yang dianggap lemah
Ketulusan muncul hanya saat ada kepentingan
Dalam psikologi sosial, ini berkaitan dengan hierarchical behavior dan rendahnya empati. Berada dekat dengan orang seperti ini bisa membuatmu merasa tidak aman, karena penghargaan yang kamu terima tidak pernah tulus.
5. Berbicara Tanpa Rem dan Minim Empati
Teman toxic sering merasa bebas berkata apa saja, tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Biasanya ditandai dengan:
Sering menyela
Bicara tajam tanpa filter
Menyakiti lewat kata-kata
Tapi kamu yang dituntut selalu memahami
Ini mencerminkan low emotional awareness dan kurangnya empati. Dalam jangka panjang, kamu bisa terbiasa memendam perasaan demi menjaga hubungan yang berisiko merusak kesehatan mentalmu sendiri.




