Setiap Orang Berjuang dengan Caranya, Jadi Berhenti Membandingkan Proses Hidup

Kalimat “kan kamu masih mending” atau “aku lebih berat dari kamu” mungkin terdengar biasa. Tapi secara psikologis, perbandingan seperti ini bisa melukai tanpa disadari.

Setiap orang menjalani hidup dengan latar belakang, luka, kapasitas mental, dan sumber daya emosional yang berbeda. Membandingkan satu perjuangan dengan yang lain sama saja dengan menghapus pengalaman subjektif seseorang.

Kamu tidak pernah benar-benar hidup sebagai aku. Begitu juga sebaliknya.


1. Perbandingan Mengabaikan Realitas Psikologis yang Berbeda

Dalam psikologi, setiap individu memiliki:

  • Riwayat pengalaman hidup yang berbeda

  • Ambang stres yang berbeda

  • Sistem dukungan yang tidak sama

  • Luka emosional yang tidak terlihat

Masalah yang terasa “kecil” bagi satu orang bisa sangat berat bagi yang lain. Bukan karena lemah, tapi karena konteks hidupnya berbeda. Dan perbandingan menghapus konteks itu.


2. Membandingkan Diri Bisa Merusak Harga Diri

Saat kamu terus dibandingkan atau membandingkan diri sendiri yang sering muncul adalah:

  • Rasa tidak cukup

  • Perasaan gagal

  • Self-blame

  • Malu atas perasaan sendiri

Dalam psikologi, ini disebut downward dan upward social comparison, yang dapat menurunkan kesejahteraan mental jika terjadi terus-menerus.

Alih-alih memotivasi, perbandingan sering justru mengikis kepercayaan diri.


3. Tidak Ada Skala Resmi untuk Mengukur Luka

Luka emosional tidak bisa diukur dengan:

  • Seberapa besar masalahnya terlihat

  • Siapa yang lebih menderita

  • Siapa yang lebih “pantas” mengeluh

Trauma, stres, dan tekanan mental bersifat subjektif. Dua orang bisa mengalami kejadian serupa, tapi dampaknya sangat berbeda.

Dalam psikologi, yang penting bukan peristiwanya, tapi bagaimana seseorang mengalaminya.


💬 Jika kamu sering merasa diremehkan, dibandingkan, atau merasa bersalah atas perasaanmu sendiri, berbicara dengan psikolog di http://Psikologi.co.id bisa membantumu memvalidasi pengalaman emosionalmu tanpa dinilai. Kamu tidak berlebihan kamu sedang jujur pada dirimu sendiri.


4. Kamu Tidak Pernah Jadi Aku, Begitu Juga Sebaliknya

Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu:

  • Beban yang kamu pikul diam-diam

  • Pikiran yang kamu tahan sendiri

  • Luka yang tidak pernah kamu ceritakan

Begitu juga kamu tidak sepenuhnya tahu perjuangan orang lain. Itulah mengapa perbandingan selalu timpang.

Empati dimulai saat kita berhenti mengukur dan mulai mendengarkan.


5. Validasi Lebih Menyembuhkan daripada Perbandingan

Kalimat sederhana seperti:

  • “Aku dengar kamu lagi berat”

  • “Perasaanmu masuk akal”

  • “Kamu nggak sendirian”

Secara psikologis jauh lebih menenangkan daripada nasihat atau perbandingan. Validasi membantu seseorang merasa:

  • Diakui

  • Aman

  • Tidak sendirian

Dan itu adalah fondasi penting bagi kesehatan mental.

Hidup bukan tentang siapa paling kuat, paling sabar, atau paling menderita. Hidup adalah tentang bagaimana masing-masing dari kita bertahan dengan alat dan kapasitas yang kita punya.

Jika hari ini kamu merasa ingin berkata, “tolong jangan bandingkan aku dengan siapa pun”, itu bukan sikap egois. Itu adalah bentuk self-protection.